Pagi ini sebelum
berangkat kerja seperti biasa, Arrasy sudah siap untuk ikut di mobil,
cukup dengan satu putaran di gang dekat rumah untuk membuatnya terdiam
dan merelakan kami, abi dan uminya pergi bekerja. Cuma pagi ini bedanya,
yang ia ambil bukan kunci mobil melainkan kunci motor. Akhirnya ritual
pagi kali ini dilakukan dengan naik motor, hanya aku dan dia minus abi.
Kubawa ia keliling kompleks sebanyak 2 putaran. Di sela-sela perjalanan
kuajak ia ngobrol, kukatakan padanya dengan kelembutan, "aa di rumah
sama oma, umi sama abi berangkat kerja dulu yah?"
ia pun menjawab dengan bahasa bayinya "no no no" diiringi gelengan kepala. Kemudian kutanyakan kembali padanya hal yang sama, dan ia menggelengkan kepalanya sekali lagi.
Alhamdulillah, arrasyku sudah besar, sudah bisa diajak berkomunikasi dan menunjukkan perasaannya. Namun pada akhirnya ia mengerti, ketika ia harus turun dari motor ia pun turun, dan membiarkan uminya berangkat bekerja.
Sayangku, apa yang umi lakukan dengan bekerja bukan karena umi tidak menyanyangimu. Karena umi dan abi sangat mencintaimu, maka kami bekerja keras agar engkau melihat seberapa besar kami menceburkan diri di dalam perjuangan ini. Agar engkau dan anak-anak lainnya kelak dapat meneruskan apa yang sudah kami rintis dengan semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat dari generasi kami.
Karena itu terima kasih sayangku, meski umi tahu, engkau bersedih ketika kami meninggalkanmu bekerja, namun engkau bisa menerimanya. Bahkan bersiap menyambut kami ketika kami pulang. Terima kasih untuk kepintaranmu yang semakin hari semakin terlihat. Bersiaplah sayang, dunia yang menantimu adalah dunia yang hebat, bahkan umi pun merinding hanya dengan memikirkan apa yang akan kau hadapi ketika usiamu semakin beranjak.
ia pun menjawab dengan bahasa bayinya "no no no" diiringi gelengan kepala. Kemudian kutanyakan kembali padanya hal yang sama, dan ia menggelengkan kepalanya sekali lagi.
Alhamdulillah, arrasyku sudah besar, sudah bisa diajak berkomunikasi dan menunjukkan perasaannya. Namun pada akhirnya ia mengerti, ketika ia harus turun dari motor ia pun turun, dan membiarkan uminya berangkat bekerja.
Sayangku, apa yang umi lakukan dengan bekerja bukan karena umi tidak menyanyangimu. Karena umi dan abi sangat mencintaimu, maka kami bekerja keras agar engkau melihat seberapa besar kami menceburkan diri di dalam perjuangan ini. Agar engkau dan anak-anak lainnya kelak dapat meneruskan apa yang sudah kami rintis dengan semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat dari generasi kami.
Karena itu terima kasih sayangku, meski umi tahu, engkau bersedih ketika kami meninggalkanmu bekerja, namun engkau bisa menerimanya. Bahkan bersiap menyambut kami ketika kami pulang. Terima kasih untuk kepintaranmu yang semakin hari semakin terlihat. Bersiaplah sayang, dunia yang menantimu adalah dunia yang hebat, bahkan umi pun merinding hanya dengan memikirkan apa yang akan kau hadapi ketika usiamu semakin beranjak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar