Selasa, 25 Desember 2012

jagoan ditinggal kerja deh

Pagi ini sebelum berangkat kerja seperti biasa, Arrasy sudah siap untuk ikut di mobil, cukup dengan satu putaran di gang dekat rumah untuk membuatnya terdiam dan merelakan kami, abi dan uminya pergi bekerja. Cuma pagi ini bedanya, yang ia ambil bukan kunci mobil melainkan kunci motor. Akhirnya ritual pagi kali ini dilakukan dengan naik motor, hanya aku dan dia minus abi. Kubawa ia keliling kompleks sebanyak 2 putaran. Di sela-sela perjalanan kuajak ia ngobrol, kukatakan padanya dengan kelembutan, "aa di rumah sama oma, umi sama abi berangkat kerja dulu yah?"

ia pun menjawab dengan bahasa bayinya "no no no" diiringi gelengan kepala. Kemudian kutanyakan kembali padanya hal yang sama, dan ia menggelengkan kepalanya sekali lagi.
Alhamdulillah, arrasyku sudah besar, sudah bisa diajak berkomunikasi dan menunjukkan perasaannya. Namun pada akhirnya ia mengerti, ketika ia harus turun dari motor ia pun turun, dan membiarkan uminya berangkat bekerja.

Sayangku, apa yang umi lakukan dengan bekerja bukan karena umi tidak menyanyangimu. Karena umi dan abi sangat mencintaimu, maka kami bekerja keras agar engkau melihat seberapa besar kami menceburkan diri di dalam perjuangan ini. Agar engkau dan anak-anak lainnya kelak dapat meneruskan apa yang sudah kami rintis dengan semangat dan kemampuan yang jauh lebih hebat dari generasi kami.

Karena itu terima kasih sayangku, meski umi tahu, engkau bersedih ketika kami meninggalkanmu bekerja, namun engkau bisa menerimanya. Bahkan bersiap menyambut kami ketika kami pulang. Terima kasih untuk kepintaranmu yang semakin hari semakin terlihat. Bersiaplah sayang, dunia yang menantimu adalah dunia yang hebat, bahkan umi pun merinding hanya dengan memikirkan apa yang akan kau hadapi ketika usiamu semakin beranjak.

Be a great wive and Mom


Siapa bilang ibu rumah tangga engga bekerja.
Menjadi ibu rumah tangga itu sebuah pekerjaan loh. Perhatiin deh di KTP. Ada kan profesi ibu rumah tangga. Namun, kenyatannya sering ga dianggap. Apa karena tidak menghasilkan uang? Kembali ke pengertian pekerjaan kalau begitu seharusnya.

Aku seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan ini sudah aku jalani kurang lebih 6-7 bulan. Sebelumnya aku pernah bekerja di perusahaan swasta. Tapi buatku pekerjaan yang aku jalani sekarang adalah yang paling berat. Dulu ketika aku bekerja di salah satu penerbitan, aku ngerasa itu pekerjaan yang berat. Maklum tempat kerjaku sangat perhitungan dengan waktu. Berangkat pagi pulang malam. Praktis ketemu Matahari  cuma tengah hari saat makan siang. Ditambah lagi beban tekanan kerja yang menggila plus bos yang aduhai galaknya.

Kemudian aku menikah dan bekerja di salah satu perusahaan konstruksi. Meskipun ga separah di tempat sebelumnya aku tetap saja merasa ini pekerjaan yang berat. Kerja di tengah lingkungan pekerja yang kesemuanya laki-laki, ditambah lagi ga ada background ilmu. Jadilah aku sempat merasa stres, apalagi waktu itu dalam keadaan hamil. Untungnya bos di tempat ini kadang-kadang aja ga enaknya, paling kalau pas nagih laporan.

Setelah melahirkan praktis aku cuti 3 bulan. Namun pada kenyataannya cuti itu menjadi keterusan karna aku memutuskan untuk menyudahi karirku di luar rumah. Oh ya, aku cuti melahirkan seminggu sebelum kelahiran Arrasy, jagoanku. 3 minggu pertama menjadi ibu masih menjadi momen santai untukku.

Ada mami dan mama yang memposisikanku untuk banyak istirahat agar recovery tubuh dan pikiranku lebih cepat. Aku akan berinteraksi dengan jagoan hanya jika ia haus. Selebihnya dari urusan mandi jagoan dan segala macam urusan rumah tangga akan diurus oleh mami dan mama. Paling berat dari masa ini hanya urusan breastfeeding yang menyakitkan dan terganggunya siklus tidur karena jagoan sering terbangun di malam hari untuk menyusu. Tapi itu masih dalam batas aman hingga kemudian aku tak lagi didampingi oleh siapapun.

Aku yang masih awam dalam urusan dengan seorang bayi mungil kemudian harus bertanggung jawab sepenuhnya. Selain itu aku masih harus mengerjakan segala tetek bengek urusan rumah. Mulai memasak, mencuci, setrika, plus urusan-urusan kecil lainnya. Barulah aku sadar pada posisi ini bahwa pekerjaan ini berat. Sangat berat.

Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya. Kita akan menyerahkan waktu kita 24 jam penuh. Tanggung jawabnya pun tidak main-main. Sebagai ibu kita tak hanya membesarkan amanah yang dititipkan Allah kepada kita. Tapi kita juga harus membentuknya menjadi mukmin. Memang kita ga sendiri. Ada suami yang akan selalu membantu.

Tapi sejujurnya, tanggung jawab ibu akan jauh lebih besar. Karena kita akan berinteraksi dengan anak-anak kita jauh lebih banyak dibanding ayahnya. Belum lagi kita masih harus memikirkan kebutuhan suami.
Banyak suami yang ‘katanya’ merasa tersisih setelah para ibunya melahirkan. Bukan tidak mungkin, aku juga merasakan bahwa kadang jagoan lebih mengambil perhatianku dibanding abinya. Jadi, pekerjaan ini membutuhkan banyak sekali keahlian. Keahlian membagi waktu, membagi perhatian, bukan hanya perhatian kepada suami tapi juga perhatian kepada diri kita sendiri.

Terkadang tubuh dan pikiran kita memerlukan me time. Banyak suami yang menyadari hal ini dan dengan senang hati akan membantu mengurus anaknya sepulang dari bekerja. Seperti suamiku salah satunya. Namun, kadang-kadang me time yang terjadi bukannya waktu untuk memanjakan diri. Tapi waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa harus memperhatikan si jagoan.

Nah, terlihat kan bagaimana ribet dan susahnya menjadi ibu rumah tangga. Tanpa ada orang lain selain suami yang membantu, ditambah jauh dari orang tua. Maka dari itu, bersiaplah untuk para calon ibu yang biasanya bekerja di luar dan nantinya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Bersiaplah memasuki dunia yang penuh dengan segala hal baru. Kunci untuk dapat melewatinya adalah dengan memperbanyak stok sabar. Sehingga apa yang kita kerjakan pada akhirnya menghasilkan pahala.
Karena menjadi ibu rumah tangga merupakan ladang untuk memperoleh pahala .

Nah ini jagoan kecilku waktu umurnya baru beberapa jam,,