Senin, 10 Oktober 2011

Like Father Like Son


Awal Oktober 2011

Bulan ini diawali dengan perubahan pada abi. Enggak tahu kenapa dia kog jadi lebih kekanak-kanakan iah. Mungkin lebih pas kalo disebut sifat kanak-kanaknya muncul dengan kentara. Dimulai ketika awal bulan keluarga kecil ini melakukan ritual belanja bulanan. Aku yang pada saat itu kebagian menggendong jagoan merasa kerepotan karna jagoan yang sekarang semakin besar menggigit-gigit putting susu. Mungkin dia merasa kurang nyaman dalam gendongan sehingga sedikit mengerjai uminya ini sambil menyusu. Sementara itu abi jagoan entah dimana rimbanya. Setelah dicari rupanya ia berhenti di deretan rak untuk mainan. Segala macam mainan anak ia amati. Aku pikir mungkin ga akan lama sampai aku putuskan untuk mengitari rak yang lain untuk memilih belanjaan.

Namun, ternyata yang aku harap akan segera menyusulku ga kunjung kelihatan batang hidungnya. Dan rupanya ia masih asyik di rak mainan tadi. Ia kelihatan bingung memilih mainan. Ia bilang kalo ia ingin sekali membelikan mainan untuk Arrasy. Jagoan kami. Lah,,Arrasy baru 6 bulan sayang, kataku. Masa udah mau dikasih mobil remote. Hingga akhirnya terlontar pengakuan kalo bukan buat Arrasy maka buat abi saja. Dan aku pun hanya bisa meringis mendengar pengakuannya. Kesimpulannya saat itu niat membeli mainan dibatalkan.

Sesampainya di rumah. Ketika aku sibuk mengganti baju Arrasy dengan baju tidur. Kedua lelaki di rumah ini melakukan kontak mata dan pembicaraan. Abi berkata ‘Tenang sayang, besok tetap abi belikan’. Dan jagoan seperti mengerti dan memberikan isyarat pengertian melalui sorot matanya.

Esoknya, sepulang dari kantor suamiku tersayang mengeluarkan sebuah bungkusan. Aku ingin membukanya namun ia bilang kalau itu untuk Arrasy. Berhubung jagoannya sedang tidur, aku pun urung membukanya. Tapi malah ia sendiri yang kemudian membukanya dan berkata . ‘Bangunin deh, abi mau tunjukin ini’. Hehehehe, terlihat sekali kalau ia sudah tidak sabar. Sampai kemudian bangunlah Arrasy dari tidur siangnya. Dengan penuh semangat abi pun menghidupkan mainan yang ternyata adalah mobil remote itu di depan jagoan yang masih terkantuk-kantuk. Awalnya jagoan senang tapi kemudian terjadi kesalahan fatal. Abi terlalu bernafsu hingga mengagetkan Arrasy. Alhasil ia menangis dan permainan dihentikan. Setelah reda tangisnya Abi pun bermaksud mengulangi. Tapi mungkin karena trauma, Arrasy pun terlihat ketakutan.

Yang aku lihat kemudian adalah ekspresi kecewa seorang abi yang ingin menyenangkan jagoannya namun yang terjadi malah sebaliknya. Aku pun berusaha menyemangatinya. Bahwa Arrasy belum terbiasa. Karna suatu hal, Abi kemudian pergi keluar rumah. Sepulangnya ia terlihat membawa bungkusan plastik yang ternyata berisi mainan lagi. Setelah dibuka Arrasy terlihat bersemangat sekali. Karena ternyata oh ternyata Abi membelikannya ring basket. Mereka berdua kemudian bermain. Arrasy pun terlihat lupa dengan tragedi mobil remote tadi.

Tanpa terlihat oleh abi, aku pun kemudian berusaha mengenalkan mobil itu sebagai teman kepada Arrasy. Ketika ia menyusu padaku, aku akan mendekatkan mobil itu padanya. Hingga ia kemudian merasa berani memainkannya.

Hari ini, Abi pun kembali bersemangat. Begitu pula dengan jagoan. Bahkan, mereka bisa memasukkan mobil itu ke dalam garasinya. Pada saat melihat semangat mereka aku seperti disiram oleh seember air dingin yang menyejukkan. Allah begitu baik padaku hingga memberikanku momen-momen seperti ini. Melihat semangat di diri abi ketika bermain dengan Arrasy, melihat senyum lebar Arrasy. Semuanya membuatku terus bersyukur. Kebahagiaan ini begitu sempurna.